Kamis, 03 Juni 2010

BINATANG IDAMAN NABI

Tulisan ini disarikan dari Buku " Sentuhan Kalbu" Oleh Ir. Permadi Alibasyah. Penerbit Yayasan Mutiara Tauhid, Jakarta , cetakan kedelapan, November 2003.

Allah dalam Al Qur'an surat An-Nahl ayat 66 berfirman :
"Sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu"

Pernahkah kita memperhatikan tiga binatang kecil, yaitu : semut, laba-laba dan lebah? Mungkin kita sependapat, bahwa diantara ketiganya, semutlah yang paling rajin menghimpun makanan. Ia menghabiskan waktu-waktunya hanya untuk mengumpulkan makanan, sedikit-demi sedikit tanpa henti-hentinya. semut itu cenderung menghimpun makanan untuk persediaan bertahun-tahun, walaupun disadarinya usianya sendiri tidak akan lebih dari satu tahun. Ketamakannya sedemukian besarnya, sehingga tak jarang kita melihat semut yang berusaha memikul sesuatu yang jauh lebih besar dari badannya, walaupun sesuatu itu sebenarnya tidak berguna baginya.


Lain lagi dengan laba-laba. Mungkin tidak ada binatang yang lebih mengerikan dari pada laba-laba. Sarangnya, walaupun lemah, jelas bukan tempat yang aman bagi makhluq lain. Apa pun yang berlindung atau terjaring disana pasti akan disergapnya dengan tak kenal ampun. Bukan itu saja, jantannya sendiri selepas berhubungan, selalu dibunuh oleh betinanya. Bahkan telurnya yang menetaspun selalu saling berdesakan, hingga dapat saling memusnahkan antar sesamanya.

Bagaimana dengan Lebah? Lebah sangat disiplin dan mengenal pembagian kerja yang sangat baik. Sarangnya dibangun berbentuk segi enam, yang telah terbukti sangat ekonomis dan kuat dibandingkan bila segi empat atau lima. Dan lagi, sarangnya selalu terjaga dari benda-benda yang tidak berguna. Yang dimakannya pun adalah sari kembang-kembang yang kemudian diolahnya menjadi madu dan lilin yang sangat bermanfaat untuk manusia. Lebah tidak mengganggu bila tidak diganggu. Sengatnya hanya dikeluarkan bila ia merasa terancam saja. Dan sengatannya itu pun ternyata dapat menjadi obat bagi penyakit-penyakit tertentu.

Dari uraian diatas, sikap hidup manusia seringkali diibaratkan dengan semut, laba-laba atau lebah. Manusia yang berbudaya semut, senang menghimpun dan menumpuk sesuatu yang tidak dinikmatinya. Ia menggali ilmu tetapi tidak mengolahnya lebih lanjut, sehingga jiwanya tetap saja kering. Ia menumpuk-numpuk harta tanpa mengerti makna harta itu sendiri, sehingga ia tetap saja seolah-olah fakir. Aji mumpung adalah andalan ilmunya.

Sedangkan manusia yang berbudaya laba-laba tidak lagi butuh berpikir apa, dimana, dan kapan ia makan. tetapi yang mereka pikirkan adalah : siapa hari ini yang akan mereka makan!

Sebaliknya, manusia yang berbudaya lebah tidak mengganggu, apalagi merusak. Tidak makan kecuali yang baik. Tidak menghasilkan kecuali yang bermanfaat. Dan jika dirinya menimpa sesuatu, tidak akan menyebabkan kerusakan pada apa yang ditimpanya. Dalam kontek manusia, banyak sekali terlihat semut yang berkeliaran dan laba-laba yang selalu siap mencaplok. Sedangkan lebah sudah sangat sulit kita temui.Rasulullah SAW, pernah beramanatbahwa seorang mukmin itu hendaklah seperti lebah. Namun nampaknya kita lebih suka menambah jumlah semut, atau bahkan laba-lana, ketimbang berpartisipasi memperbanyak populasi lebah. Memang menjadi minoritas yang berkualitas itu tidaklah mudah. Dari pelajaran diatas, kita berharap dapat menghantarkan kita pada keinginan untuk menjadi manusia sesuai yang diinginkan oleh Nabi kita. Tentunya bukan hanya sekedar keinginan saja, tetapi dilanjutkan dengan langkah-langkah kongkritnya. Mari kita hidupkan semangat jihad untuk memerangi nafsu dan setan yang selalu berusaha menghalang-halangi kita menjadi seperti lebah. Wallahu a'lamu bisshawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.