Jumat, 09 Desember 2011

KONSEP OPERASIONAL BMT

TEORI DASAR KE-BMT-AN

BMT Identik dengan: KOPERASI JASA KEUANGAN SYARI’AH
Usaha : Maal dan Tamwil

MAAL Kegiatan pengumpulan ZIS dan wakaf serta penyalurannya

TAMWIL :
Kegiatan Pembiayaan : 1. Pengumpulan Tabungan Simpanan 2. Distribusi Pembiayaan Piutang Qardh
<
br /> TABUNGAN/ SIMPANAN : Dana yang dipercayakan kepada BMT selama waktu tertentu (Simpanan Berjangka) atau tanpa waktu tertentu (Tabungan).
Simpanan Wadiah Yad Dhamanah Simpanan Mudharabah Al-Muthalaqah Simpanan Mudharabah Berjangka

PEMBIAYAAN Penyediaan dana untuk investasi atau permodalan dari BMT sebagai Sahibul maal kepada 1. Mudharib
2. Mudharabah
3. Istisna
4. Musyarakah
5. Ijarah
6. Murabahah
7. Qardh Salam

CIRI - CIRI EKONOMI BERDASARKAN PRINSIP SYARIAH
Berdasarkan prinsip syariah Implementasi prinsip ekonomi Islam dengan ciri :
1. Pelarangan riba dalam berbagai bentuknya
2. Tidak mengenal konsep “time value of money”
3. Uang sebagai alat tukar bukan komoditi yang diperdagangkan
4. Beroperasi atas dasar bagi hasil
5. Kegiatan usaha untuk memperoleh imbalan atas jasa
6. Tidak menggunakan “bunga” sebagai alat untuk memperoleh pendapatan
7. Azas utama kemitraan, keadilan, transparasi dan universal 8. Tidak membedakan secara tegas sektor moneter dan sektor riil  dapat melakukan transaksi – transaksi sektor riil.

ASPEK SYARIAH
1. Tidak mengandung unsur kedzaliman
2. Bukan riba
3. Tidak membahayakan pihak sendiri atau pihak lain
4. Tidak ada penipuan (gharar)
5. Tidak mengandung materi – materi yang diharamkan
6. Tidak mengandung unsur judi ( maisyir )
Baca selengkapnya Blog-nya Hanan Muhtarom

Selasa, 08 Juni 2010

MENELADANI KEPRIBADIAN RASULULLAH SAW

Segala puji hanya untuk Allah, Rabb alam semesta. Shalawat serta salam semoga senantiasa terlimpah kepada Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Juga kepada keluarga, para sahabat yang mulia dan para pengikut beliau yang setia hingga hari kiamat.

Saudaraku yang dimuliakan Allah, Di antara rukun iman yang kita yakini dalam ajaran agama kita adalah iman kepada para Nabi dan Rasul yang diutus Allah kepada umat manusia. Mereka telah menda'wahkan ajaran tauhid (mengesakan Allah) dan melarang perbuatan syirik (menyekutukan Allah) yang semua itu terangkum dalam ajaran agama yang kita cintai, al-Islam.


Allah berfirman : "Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu : Jika kamu mempersekutukan (Rabb), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi". (QS. 39:65).

Nabi dan Rasul terakhir yang diutus Allah ke bumi ini adalah Muhammad shallallahu 'alahi wasallam. Kita telah memberi kesaksian (syahadah) bahwa beliau benar-benar seorang utusan Allah dengan kalimat Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah. Syahadah ini memiliki konsekuensi membenarkan segala yang datang dari beliau, dan melaksanakan segala perintahnya, menjauhi segala larangannya dan tidak menyembah Allah kecuali dengan cara yang disyari'atkan kepadanya. Beliau hanyalah seorang hamba yang tidak boleh disembah, seorang Rasul yang tidak boleh didustakan dan seorang hamba yang tidak mampu mendatangkan manfaat atau mudharat bagi dirinya atau orang lain, kecuali atas izin Allah dan kehendak-Nya.

Allah berfirman : "Katakanlah: "Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku." (QS. 6:50).

Ada beberapa kepribadian yang sangat menonjol dalam diri Rasulullah sehingga kita diperintah untuk mengambil suri tauladan dalam mendidik umat. Dr. Muhammad Ra'fat Sa'id dalam karyanya berjudul "Ar-Rasul al-Mu'allim, wa Manhajuhu fit ta'lim" mencatat beberapa kepribadian Rasululllah menurut Al-Qur'an.

1. Sebagai Penerima Wahyu

Firman Allah : "Katakanlah: Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Esa. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah dia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Rabbnya" (QS. 18:110)

Begitulah Al-Qur'an menyatakan tentang pribadi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau memang manusia biasa, tetapi tidak seperti manusia lainnya. Sebab beliau telah menerima wahyu dari Allah dan telah dipilih-Nya untuk menyampaikan risalah-Nya. Kita pun sebagai umatnya yang mengikuti jejak beliau harus berkepribadian seperti beliau, yang menyadari bahwa kita adalah pewaris wahyu yang telah beliau sampaikan.

2. Pribadi yang Dapat Dipercaya

Al-Qur'an mengisyaratkan bahwa sifat seorang muballigh, pengajar dan pendidik adalah sifat ash-shidq (berkata benar) dan al-amanah (dapat dipercaya) dalam tablighnya. Selain itu tentunya tidak menyampaikan sesuatu tentang agama yang tidak diwahyukan Allah. Itulah sifat-sifat yang dimiliki oleh beliau.

Allah berfirman: "Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya) " (Qs. 53 : 3-4).

3. Pembawa Nikmat, Kesucian dan Ilmu

Al-Qur'an menjelaskan bahwa diangkatnya Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam sebagai utusan Allah adalah pemberian Allah kepada kaum mu'minin yang mengajari dan membersihkan jiwa mereka setelah sekian lama berada dalam kegelapan. Allah berfirman: "Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (QS. 3:164).

Disamping tiga kepribadian seperti yang tersebut di atas, masih banyak lagi kelebihan yang dimiliki oleh beliau. Beliau juga merupakan figur yang dicintai dan ditaati oleh para sahabat yang hidup sezaman dengan beliau dan --Insya Allah-- termasuk kita, meski kita belum pernah melihat beliau semasa hidup. Pribadi yang kokoh dan terlatih juga nampak dalam diri beliau ketika menghadapi kesulitan dalam perjalanan hidup beliau.

Dari sekian banyak kajian tentang perjalanan da'wah dan pendidikan yang beliau lakukan kepada umat, kita dapat mendapat pelajaran bahwa beliau adalah sosok pendidik yang betul-betul memahami tabiat dasar manusia. Para ahli ilmu jiwa pendidikan menyimpulkan, bahwa diantara tabiat manusia : "Dia tidak mau menyempurnakan proses belajar yang mereka tempuh -sepanjang hidupnya- kecuali dari pendidik yang mereka cintai; mereka ketahui kemampuannya; mereka rasakan adanya sentuhan-sentuhan jiwa secara langsung. Raut wajah yang selalu ceria dan perhatian yang penuh."

Sifat itu semua terkumpul dalam sosok pribadi Rasulullah Muhammad shallallahu 'alahi wasallam. Semoga kita dapat meneladaninya.

sumber : aldakwah.com
Baca selengkapnya Blog-nya Hanan Muhtarom

KEHALUSAN, KELEMBUTAN DAN KESABARAN RASULULLAH SAW

Merampas dan mengambil hak orang lain dengan paksa merupakan ciri orang-orang zhalim dan jahat. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah memancangkan pondasi-pondasi keadilan dan pembelaan bagi hak setiap orang agar mendapatkan dan mengambil haknya yang dirampas. Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah menjalankan kaidah tersebut demi kebaikan dan semata-mata untuk jalan kebaikan dengan bimbingan karunia yang telah Allah curahkan berupa perintah dan larangan. Kita tidak perlu takut adanya kezhaliman, perampasan, pengambilan dan pelanggaran hak di rumah beliau.


'Aisyah radhiyallahu 'anha menuturkan: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah sama sekali memukul seorang pun dengan tangannya kecuali dalam rangka berjihad di jalan Allah. Beliau tidak pernah memukul pelayan dan kaum wanita. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah membalas suatu aniaya yang ditimpakan orang atas dirinya. Selama orang itu tidak melanggar kehormatan Allah Namun, bila sedikit saja kehormatan Allah dilanggar orang, maka beliau akan membalasnya semata-mata karena Allah." (HR. Ahmad).

'Aisyah radhiyallahu 'anha mengisahkan: "Suatu kali aku berjalan bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau mengenakan kain najran yang tebal pinggirannya. Kebetulan beliau berpapasan dengan seorang Arab badui, tiba-tiba si Arab badui tadi menarik dengan keras kain beliau itu, sehingga aku dapat melihat bekas tarikan itu pada leher beliau. ternyata tarikan tadi begitu keras sehingga ujung kain yang tebal itu membekas di leher beliau. Si Arab badui itu berkata: "Wahai Muhammad, berikanlah kepadaku sebagian yang kamu miliki dari harta Allah!" Beliau lantas menoleh kepadanya sambil tersenyum lalu mengabulkan permintaannya." (Muttafaq 'alaih).

Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam baru kembali dari peperangan Hunain, beberapa orang Arab badui mengikuti beliau, mereka meminta bagian kepada beliau. Mereka terus meminta sampai-sampai beliau terdesak ke sebuah pohon, sehingga jatuhlah selendang beliau, ketika itu beliau berada di atas tunggangan. Beliau lantas berkata: "Kembalikanlah selendang itu kepadaku, Apakah kamu khawatir aku akan berlaku bakhil Demi Allah, seadainya aku memiliki unta-unta yang merah sebanyak pohon 'Udhah ini, niscaya akan aku bagikan kepadamu, kemudian kalian pasti tidak akan mendapatiku sebagai seorang yang bakhil, penakut lagi pendusta." (HR. Al-Baghawi di dalam kitab Syarhus Sunnah dan telah dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani).

Merupakan bentuk tarbiyah dan ta'lim yang paling jitu dan indah adalah berlaku lemah lembut dalam segala perkara, dalam mengenal maslahat dan menolak mafsadat.

Kecemburuan yang dimiliki para sahabat telah mendorong mereka untuk menyanggah setiap melihat orang yang keliru dan tergelincir dalam kesalahan. Mereka memang berhak melakukan hal itu! Namun Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang lembut dan penyantun melarang mereka melakukan seperti itu, karena orang itu (pelaku kesalahan itu) jahil atau karena mudharat yang timbul dibalik itu lebih besar. Tentu saja, perilaku Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lebih utama untuk diteladani.

Abu Hurairah menceritakan: "Suatu ketika, seorang Arab Badui buang air kecil di dalam masjid (tepatnya di sudut masjid). Orang-orang lantas berdiri untuk memukulinya. Namun Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan: "Biarkanlah dia, siramlah air kencingnya dengan seember atau segayung air. Sesungguhya kamu ditampilkan ke tengah-tengah umat manusia untuk memberi kemudahan bukan untuk membuat kesukaran." (HR. Al-Bukhari).

Kesabaran Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam menyebarkan dakwah layak menjadi motivasi bagi kita untuk meneladaninya. Kita wajib berjalan di atas manhaj (metode) beliau di dalam berdakwah semata-mata karena Allah tanpa membela kepentingan pribadi.

'Aisyahradhiyallahu 'anha pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam : "Apakah ada hari yang engkau rasakan lebih berat daripada hari peperangan Uhud?" Beliau menjawab: "Aku telah mengalami berbagai peristiwa dari kaummu, yang paling berat kurasakan adalah pada hari 'Aqabah, ketika aku menawarkan dakwah ini kepada Abdu Yalail bin Abdi Kalaal namun dia tidak merespon keinginanku. Akupun kembali dengan wajah kecewa. Aku terus berjalan dan baru tersadar ketika telah sampai di Qornuts Tsa'alib (sebuah gunung di kota Makkah). Aku tengadahkan wajahku, kulihat segumpal awan tengah memayungiku. Aku perhatikan dengan saksama, ternyata Malaikat Jibril ada di sana. Lalu ia menyeruku: "Sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaum-mu dan bantahan mereka terhadapmu. Dan aku telah mengutus malaikat pengawal gunung kepadamu supaya kamu perintahkan ia sesuai kehendakmu. Kemudian malaikat pengawal gunung itu memberi salam kepadaku lalu berkata: "Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu dan bantahan mereka terhadapmu, dan aku adalah malaikat pengawal gunung, Allah telah mengutusku kepadamu untuk melaksanakan apa yang kamu perintahkan kepadaku. Sekarang, apakah yang kamu kehendaki jika kamu menghendaki agar aku menimpakan kedua gunung ini atas mereka, niscaya aku lakukan!" Beliau menjawab: "Tidak, justru aku berharap semoga Allah mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya." (Muttafaq 'alaih).

Pada hari ini, sering kita lihat sebagian orang yang bersikap terburu-buru dalam berdakwah. Berharap dapat segera memetik hasil. Hanya membela kepentingan pribadi yang justru hal itu merusak dakwah dan mengotori keikhlasan. Oleh sebab itu, berapa banyak kelompok-kelompok dakwah yang gagal karena individu-individunya tidak memiliki kesabaran dan ketabahan!

Setelah bersabar dan berjuang selama bertahun-tahun, barulah terwujud apa yang dicita-citakan Rasulullah.

Dalam sebuah syair disebutkan:

Bagaimanakah mungkin dapat diimbangi seorang insan terbaik yang hadir di muka bumi.
Semua orang yang terpandang tidak akan mampu mencapai ketinggian derajat-nya.
Semua orang yang mulia tunduk di hadapannya.
Para penguasa Timur dan Barat rendah di sisi-nya.

Abdullah bin Mas'ud mengungkapkan: "Sampai sekarang masih terlintas dalam ingatanku saat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengisahkan seorang Nabi yang dipukul kaumnya hingga berdarah. Nabi tersebut mengusap darah pada wajahnya seraya berdoa: "Ya Allah, ampunilah kaumku! karena mereka kaum yang jahil." (Muttafaq 'alaih).

Pada suatu hari ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tengah melayat satu jenazah, datanglah seorang Yahudi bernama Zaid bin Su'nah menemui beliau untuk menuntut utangnya. Yahudi itu menarik ujung gamis dan selendang beliau sambil memandang dengan wajah yang bengis. Dia berkata: "Ya Muhammad, lunaskanlah utangmu padaku!" dengan nada yang kasar. Melihat hal itu Umar pun marah, ia menoleh ke arah Zaid si Yahudi sambil mendelikkan matanya seraya berkata: "Hai musuh Allah, apakah engkau berani berkata dan berbuat tidak senonoh terhadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di hadapanku! Demi Dzat Yang telah mengutusnya dengan membawa Al-Haq, seandainya bukan karena menghindari teguran beliau, niscaya sudah kutebas engkau dengan pedangku!"

Sementara Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memperhatikan reaksi Umar dengan tenang. Beliau berkata: "Wahai Umar, saya dan dia lebih membutuhkan perkara yang lain (nasihat). Yaitu engkau anjurkan kepadaku untuk menunaikan utangnya dengan baik, dan engkau perintahkan dia untuk menuntut utangnya dengan cara yang baik pula. Wahai umar bawalah dia dan tunaikanlah haknya serta tambahlah dengan dua puluh sha' kurma."

Melihat Umar menambah dua puluh sha' kurma, Zaid si Yahudi itu bertanya: "Ya Umar, tambahan apakah ini?
Umar menjawab: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkanku untuk menambahkannya sebagai ganti kemarahanmu!"
Si Yahudi itu berkata: "Ya Umar, apakah engkau mengenalku?"
"Tidak, lalu siapakah Anda?" Umar balas bertanya.
"Aku adalah Zaid bin Su'nah." jawabnya.
"Apakah Zaid si pendeta itu?" tanya Umar lagi.
"Benar!" sahutnya.
Umar lantas berkata: "Apakah yang mendorongmu berbicara dan bertindak seperti itu terhadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Zaid menjawab: "Ya Umar, tidak satupun tanda-tanda kenabian kecuali aku pasti mengenalinya melalui wajah beliau setiap kali aku memandangnya. Tinggal dua tanda yang belum aku buktikan, yaitu: apakah kesabarannya dapat memupus tindakan jahil, dan apakah tindakan jahil yang ditujukan kepadanya justru semakin menambah kemurahan hatinya. Dan sekarang aku telah membuktikannya. Aku bersaksi kepadamu wahai Umar, bahwa aku rela Allah sebagai Rabbku, Islam sebagai agamaku dan Muhammad sebagai nabiku. Dan Aku bersaksi kepadamu bahwa aku telah menyedekahkan sebagian hartaku untuk umat Muhammad."
Umar berkata: "Ataukah untuk sebagian umat Muhammad saja sebab hartamu tidak akan cukup untuk dibagikan kepada seluruh umat Muhammad."
Zaid berkata: "Ya, untuk sebagian umat Muhammad.
Zaid kemudian kembali menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan menyatakan kalimat syahadat "Asyhadu al Laa Ilaaha Illallaahu, wa Asyhadu Anna Muhammadan Abduhu wa Rasuuluhu". Ia beriman dan membenarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam." (HR. Al-Hakim dalam kitab Mustadrak dan menshahihkannya).

Cobalah perhatikan dialog yang panjang tersebut, sebuah pendirian dan kesudahan yang mengesankan. Semoga kita dapat meneladani junjungan kita nabi besar Muhammad. Meneladani kesabaran beliau dalam menghadapi beraneka ragam manusia. Dan dalam mendakwahi mereka dengan lemah lembut dan santun. Memberikan motivasi bila mereka berlaku baik, serta menumbuhkan rasa optimisme di dalam diri mereka.

'Aisyah radhiyallahu 'anha menceritakan: "Suatu kali aku pergi melaksanakan umrah bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dari kota Madinah. Ketika tiba di kota Makkah, aku berkata: "Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, ayah dan ibuku sebagai tebusannya, engkau mengqasar shalat namun aku menyempurnakannya, engkau tidak berpuasa justru aku yang berpuasa." Beliau menjawab: "Bagus, wahai 'Aisyah!" Beliau sama sekali tidak mencela diriku." (HR. An-Nasaai).

sumber : alsofwah.or.id
Baca selengkapnya Blog-nya Hanan Muhtarom

CANDA RASULULLAH SAW

Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam adalah seorang pemimpin yang sangat memperhatikan urusan umat dan seluruh pasukannya. Beliau juga sangat perhatian terhadap bawahan serta anggota keluarga. Disamping itu beliau juga tetap menjaga amal ibadah serta wahyu yang diturunkan. Dan banyak lagi urusan lain yang beliau perhatikan.


Sungguh merupakan amal yang sangat agung dalam rangka memenuhi tuntutan kehidupan dan membangkitkan motivasi, yang tidak akan mampu dilaksanakan oleh sembarang orang. Namun Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam meletakkan setiap hak pada tempatnya. Beliau tidak akan mengurangi hak orang lain atau meletakkan hak tersebut tidak pada tempatnya. Meskipun sangat banyak beban dan pekerjaan, namun beliau tetap memberikan tempat bagi anak-anak kecil dihatinya. Beliau sering mengajak mereka bercanda dan bersenda gurau, mengambil hati mereka dan membuat mereka senang.

Abu Hurairah Radhiallaahu anhu menceritakan: “Para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW : “Wahai Rasulullah, apakah engkau juga bersenda gurau bersama kami?” Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam menjawab: “Tentu, hanya saja aku selalu berkata benar.” (HR. Ahmad).

Anas Radhiallaahu anhu menceritakan kepada kita salah satu bentuk canda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam, ia berkata: “Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam pernah memanggilnya dengan sebutan: “Wahai pemilik dua telinga!” (maksudnya bergurau dengannya). (HR. Abu Dawud).

Anas Radhiallaahu anhu mengisahkan: “Ummu Sulaim Radhiallaahu anha mempunyai seorang putra yang bernama Abu ‘Umair. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam sering bercanda dengannya setiap kali beliau datang. Pada suatu hari Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam datang mengunjunginya untuk bercanda, namun tampaknya anak itu sedang sedih. Mereka berkata: Wahai Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam, burung yang biasa diajaknya bermain sudah mati.” Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam lantas bercanda dengannya, beliau berkata: “Wahai Abu ‘Umair, apakah gerangan yang sedang dikerjakan oleh burung kecil itu?” (HR. Abu Daud).

Demikian pula dengan para sahabat Radhiallaahu anha, salah satu di antaranya adalah yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik Radhiallaahu anhu ia berkata: “Ada seorang pria dusun bernama Zahir bin Haram. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam sangat menyukainya. Hanya saja tampangnya jelek. Pada suatu hari, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam menemuinya sewaktu ia menjual barang dagangan. Tiba-tiba Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam memeluknya dari belakang sehingga ia tidak dapat melihat beliau. Ia pun berkata: “Lepaskan aku! Siapakah ini?”

Setelah menoleh ia pun mengetahui ternyata yang memeluknya adalah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam. Ia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk merapatkan punggungnya ke dada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam lantas berkata: “Siapakah yang sudi membeli hamba sahaya ini?” Ia pun berkata: “Demi Allah wahai Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam kalau demikian aku tidak akan laku dijual!” Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam membalas: “Justru engkau di sisi Allah Subhannahu wa Ta’ala sangat mahal harganya!” (HR. Ahmad).

Sungguh merupakan akhlak yang terpuji dari baginda Nabi yang mulia dan luhur budi pekertinya Shallallaahu alaihi wa Salam. Meskipun beliau bersikap luwes terhadap keluarga dan kaumnya, namun tetap ada batasannya. Beliau tidaklah melampaui batas bila tertawa, beliau hanya tersenyum. Sebagaimana yang dituturkan ‘Aisyah Radhiallaahu anhu : “Belum pernah aku melihat Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan anak lidah beliau. Namun beliau hanya tersenyum.” (Muttafaq ‘alaih).

Meskipun beliau selalu bermuka manis dan elok dalam pergaulan, namun bila peraturan-peraturan Allah dilanggar, wajah beliau akan memerah karena marah. ‘Aisyah Radhiallaahu anhu menuturkan kepada kita: “Pada suatu ketika, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam baru kembali dari sebuah lawatan. Sebelumnya aku telah menirai pintu rumahku dengan korden tipis yang bergambar. Ketika melihat gambar itu Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam langsung merobeknya hingga berubah rona wajah beliau seraya berkata: “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya orang yang paling keras siksanya di sisi Allah pada Hari Kiamat adalah orang-orang yang meniru-niru ciptaan Allah.” (Muttafaq ‘alaih).

sumber : alsofwah.or.id
Baca selengkapnya Blog-nya Hanan Muhtarom

AKHLAQ DAN BUDI PEKERTI RASULULLAH SAW

Perilaku seseorang merupakan barometer akal dan kunci untuk mengenal hati nuraninya. ‘Aisyah Ummul Mukminin putri Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhuma seorang hamba terbaik yang mengenal akhlak Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan yang dapat menceritakan secara detail keadaan beliau shallallahu 'alaihi wasallam. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha adalah orang yang paling dekat dengan beliau baik saat tidur maupun terjaga, pada saat sakit maupun sehat, pada saat marah maupun ridha.


Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan: "Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bukanlah seorang yang keji dan tidak suka berkata keji, beliau bukan seorang yang suka berteriak-teriak di pasar dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Bahkan sebaliknya, beliau suka memaafkan dan merelakan." (HR. Ahmad).

Demikianlah akhlak beliau shallallahu 'alaihi wasallam selaku nabi umat ini yang penuh kasih sayang dan selalu memberi petunjuk, yang penuh anugrah serta selalu memberi nasihat. Semoga shalawat dan salam tercurah atas beliau.

Al-Husein cucu beliau menuturkan keluhuran budi pekerti beliau. Ia berkata: “Aku bertanya kepada ayahku tentang adab dan etika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam terhadap orang-orang yang bergaul dengan beliau, ayahku menuturkan:

“Beliau shallallahu 'alaihi wasallam senantiasa tersenyum, luhur budi pekerti lagi rendah hati, beliau bukanlah seorang yang kasar, tidak suka berteriak-teriak, bukan tukang cela, tidak suka mencela makanan yang tidak disukainya. Siapa saja yang mengharapkanya pasti tidak akan kecewa dan siapa saja yang memenuhi undangannya pasti akan senantiasa puas. Beliau meninggalkan tiga perkara: “riya’, berbangga-bangga diri dan hal yang tidak bermanfaat.”

Dan beliau menghindarkan diri dari manusia karena tiga perkara: “beliau tidak suka mencela atau memaki orang lain, beliau tidak suka mencari-cari aib orang lain, dan beliau hanya berbicara untuk suatu maslahat yang bernilai pahala.”

Jika beliau berbicara, pembicaraan beliau membuat teman-teman duduknya tertegun, seakan-akan kepala mereka dihinggapi burung (karena khusyuknya). Jika beliau diam, barulah mereka berbicara. Mereka tidak pernah membantah sabda beliau. Bila ada yang berbicara di hadapan beliau, mereka diam memperhatikannya sampai ia selesai bicara. Pembicaraan mereka disisi beliau hanyalah pembicaraan yang bermanfaat saja. Beliau tertawa bila mereka tertawa. Beliau takjub bila mereka takjub, dan beliau bersabar menghadapi orang asing yang kasar ketika berbicara atau ketika bertanya sesuatu kepada beliau, sehingga para sahabat shallallahu 'alaihi wasallam selalu mengharapkan kedatangan orang asing seperti itu guna memetik faedah.

Beliau bersabda: “Bila engkau melihat seseorang yang sedang mencari kebutuhannya, maka bantulah dia.”

Beliau tidak mau menerima pujian orang kecuali menurut yang selayaknya. Beliau juga tidak mau memutuskan pembicaraan seeorang kecuali orang itu melanggar batas, beliau segera menghentikan pembicaraan tersebut dengan melarangnya atau berdiri meninggalkan majlis.” (HR. At-Tirmidzi).

Cobalah perhatikan satu persatu akhlak dan budi pekerti nabi umat ini shallallahu 'alaihi wasallam. Pegang teguh akhlak tersebut dan bersungguh-sungguhlah dalam meneladaninya, sebab ia adalah kunci seluruh kebaikan.

Di antara petunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah mengajarkan perkara agama kepada teman-teman duduknya, di antara yang beliau ajarkan adalah: “Barangsiapa yang wafat sedangkan ia memohon kepada selain Allah, ia pasti masuk Neraka.” (HR. Al-Bukhari).

Di antaranya juga: “Seorang muslim adalah yang kaum muslimin dapat terhindar dari gangguan lisan dan tangan-nya, seorang muhajir (yang berhijrah) adalah yang meninggalkan segala yang dilarang Allah.” (Muttafaq ‘alaih).

Dan sabda beliau shallallahu 'alaihi wasallam: “Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan ke masjid di malam kelam, berupa cahaya yang sempurna pada Hari Kiamat.” (HR. At-Tirmidzi dan Abu Daud).

Demikian pula sabda beliau shallallahu 'alaihi wasallam: “Perangilah kaum musyrikin dengan harta, jiwa dan lisan kamu.” (HR. Abu Daud).

Diriwayatkan juga dari beliau: “Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan sebuah perkataaan yang belum jelas bermanfaat baginya sehingga membuat ia terperosok ke dalam api Neraka lebih jauh daripada jarak timur dan barat.” (Muttafaq ‘alaih).

sumber : alsofwah.or.id
Baca selengkapnya Blog-nya Hanan Muhtarom